My La La Land

Hai hai.. miss me already? Hahahha. Yah, saya memang hiatus nulis selama beberapa waktu karena beberapa alasan. Selain karena bejibunnya kegiatan kantor awal tahun, belum ketemunya mood nulis, sampai kejadian ngehitsnya blog ini karena status fb saya yang kontroversial, mengenai seseorang yang protes tentang konten blog ini. Well, I still haven’t found my writing mood too. So maybe it’s just a booster for me to write again.

Btw, I got addicted to a criminal series called “Criminal Minds” lately. Maybe I’ll review it later. Serialnya seru banget, meskipun agak serem dan bikin saya jadi makin paranoid. Dan di tiap episode selalu ada qoute di awal dan akhir cerita yang bagus2. Saya belum sempat nyatetin sih, cuma beberapa aja. Nanti mungkin bakal saya masukin ke post laen kalo udah saya recap. Hehehe.. But here’s one quote in an episode of Criminal Minds which quite explain my situation when someone of my past told me that he felt like I was writing bad things about him, and that I was unfair about him.

Better to write for yourself and have no public, than to write for the public and have no self — Cyrill Connoly

So, apakah saya merasa bersalah sama dia tentang apa yang saya tulis tentang dia di blog ini? Hmm.. a bit, at first. But then i realize that this blog is mine. Everything I wrote here were from my point of view. It’s my La La Land. So he can feel or think anything he wanted. But in the end of the day, I’m still gonna write those things all over again if I have to. Sorry boy, you no longer have vote in my life.. :)

Cheers

Take Me or Leave Me

In the past weeks somehow saya kecanduan denger lagu ini.

Read more

Other Space

What are you doing right now? Well, kalau sodara2 lagi baca post ini, berarti lagi online ya. Ehehe…Ehehe…Ehehe… *tertawa kemalumaluan* Ya itulah yang lagi menggantung di otak saya yang simpel tapi suka rumit sendiri ini *apa?! apa?!*. Maksud saya sih tentang kebiasaan online kita sekarang ini yang kayaknya udah jadi kebutuhan hampir primer. Kesannya kalau seseorang ga punya kehidupan di internet itu berarti lahir sebelum tahun 50an. Tapi umur pun ga bisa dijadiin patokan juga sebenernya. Udah banyak banget parents and elderly yang aware tentang “kehidupan kedua” manusia yang bisa didapetin di internet. Well, saya pun ngeblog karena menurut saya menulis punya efek terapi atau rekreasional buat saya. Buat menyegarkan pikiran dan lepas sejenak dari kehidupan nyata yang kadang2 ga sesuai ekspektasi saya.

Saya sendiri baru benar2 mahfum sama yang namanya socnet kira2 5 tahun yang lalu, pas pertama kali masuk kuliah. Semua temen2 maba (mahasiswa baru) saya kalau kenalan pasti nyantumin alamat e-mail atau alamat friendster (fs) yang lagi ngehits banget jaman itu. Karena saya gadis polos dan lugu pada saat itu, saya belum punya dan belum tahu juga gimana caranya bikin e-mail. Akhirnya setelah diseret-seret sama temen saya ke warnet yang banyak banget di daerah sekitar kampus, saya punya email pertama saya setelah beberapa minggu masuk kuliah. Ya..ya..ya. Tidak terlalu membanggakan memang. Setelah punya e-mail, langsung deh meluncur ke ym dan friendster. Saya inget banget nama profile fs saya waktu itu. “Saraszz Ajah”. OMG, shoot me now..

Yah, alay kan bagian dari proses menuju kedewasaan.. Hehehehe..

Read more

Love – Part 2. Butterflies.

Hai-haaai.. I’m back again to fulfil my destiny *salah adegan*. To fulfil my words, I mean. Ngelanjutin postingan yang agak unyu kemaren. :3 Heheheh. Sebelumnya saya mau mu’un maap karena baru bisa posting sekarang setelah melewati berbagai rintangan seperti masuk angin, ilangnya draft post di hape, sampe banjir diskon di blok M. Eh iya, sama harus kerja jg sih.. *ditimpuk bos*. So, where were we? Hmmm…

Read more

Love – Part 1. Sakitnya.

Hmm.. Sebelumnya mohon maap ya kl postingan saya kali ini agak2 menye2. Saya lagi pengen ikut2an ngomongin masalah yang udah jadi masalah sejak jaman prasejarah. Ce-I-eN-Te-A. Ya..ya..ya.. saya tahu jadi keliatan bgt galaunya. But like I said before, this blog is the one place I can throw away all of my galau. *Yang sering galau tanpa sebab dan malem mingguan cm nonton dvd ngacuuung!!* Jadi yang merasa anti sama cinta2an, silahkan klik tanda “x” di ujung kanan atas layar anda. Terima kasih. *pliiss, jangan diklik pliiiss*

Read more

Unpretty

Pernah dengerin lagu Unpretty-nya TLC ga?

I wish I could tie you up in my shoes
Make you feel unpretty too
I was told I was beautiful
But what does that mean to you
Look into the mirror who’s inside there
The one with the long hair
Same old me again today

Read more

Jalinan Sejarah

Nyesek. Gimana ya menyusun kata-kata yang indah buat jelasin perasaan aneh yang kadang muncul dan kerasa di dada kita ini? Yah, mungkin sodara sebangsa dan setanah air bespekulasi kenapa tiba2 kata itu muncul di page ini, mengingat sejarah saya yang keseringan galau di masa lalu. No, it’s not about that same old story lagi, don’t worry *kayak ada aja yang bakal khawatir gtu*. Tapi di malem minggu ini tiba2 dada saya nyesek, tanpa alasan yang jelas. I lost my words to describe it. Atau mungkin buat orang2 yang single masih membutuhkan pegangan hidup kayak saya ini, grafik perputaran hari dalam seminggu itu berbanding lurus dengan besaran rasa nyesek di dada ya? Makin deket ke akhir minggu makin gede nyeseknya. Mueheheheh. Makanya itulah saya tiba2 pengen mengeluarkan rasa nyesek aneh ini lewat rambling aja.

Well anyway, hari ini tanggal 3 Desember, dimana buat semua civil servant yang mencari penghidupan di satu kementrian yang bergerak di bidang jalan dan jembatan, permukiman, pengairan, pembinaan konstruksi halah bilang aja PU punya makna yang lain *suara harpa mengalun*. Yap, hari ini Hari Bakti Kementrian Pekerjaan Umum tempat saya mencari nafkah dan mungkin jodoh yang ke-66. Yes, PU is as old as this nation guys. Yah, saya ga akan kilas balik sejarah PU disini. Maybe I just want to say something about this ministry, how it tangled in my own history *mataberkacakaca*.

Read more

Choice

Setelah beberapa minggu terakhir ini saya meninggalkan dunia maya kecuali buat download karena dapet wifi gratis *lemparsendal*, akhirnya saya blogwalking juga ke beberapa blog temen2 yang lebih aktif ngeblog dibandingin saya. *Spoiler alert, tulisan ini mungkin agak2 abstrak*

Yang menarik, dari beberapa tulisan temen2 itu, saya merasa kalau ada satu hal yang melayang-layang dalam otak saya. Bukan, bukan gimana caranya punya duit banyak dan pacar sekeren Darren Criss koq. Tapi tentang: CHOICE. Kenapa tiba2 saya kepikiran tentang ini? Well, like I said, setelah blogwalking dan berpikir, saya jadi sadar, kehidupan saya selama 23 tahun masih mendekati remaja ini sebenernya adalah refleksi dari pilihan2 yang saya ambil, tiap hari, tiap detik. Seperti misalnya, saya memilih untuk mengambil jurusan kuliah yang sebenernya saya ga punya bayangan apa2 tentang jurusan itu, yang akhirnya membawa saya ke pekerjaan dan tempat tinggal saya sekarang. Atau ketika saya memilih untuk nrimo penempatan saya di ibukota yang sebenarnya di luar rencana saya. And you know what, saya sampai pada pemahaman bahwa sebenarnya karakter kita, atau orang seperti apakah kita itu adalah hasil dari pilihan itu sendiri. Bukan dibentuk oleh nature atau nurture yang selama ini orang bilang merupakan faktor pembentuk kepribadian. Lingkungan dan orang2 di sekitar kita memberikan pilihan buat kita, tapi kita yang MEMILIH kepribadian kita sendiri. Kita yang menentukan apakah kita orang yang baik atau tidak.

Read more

Trippin’, stumblin’, fallin’, Clumsy…

CLUMSY.

Familiar with that word? Mungkin yang udah nonton The Smurf punya bayangan kayak gimana clumsy itu. Kalo berdasarkan wikipedia, akan langsung refer ke frasa “Accident-proneness”, yang penjelasannya: also known as clumsiness, is the conception that some people might have predisposition, or that they might be more likely to suffer accidents, such as car crashes and industrial injuries, than other people. The exact nature and causes of accident-proneness, assuming that it exists as a distinct entity, are unknown. Factors which have been considered as associated with accident-proneness have included absent-mindedness, carelessness, impulsivity, predisposition to risk-taking, and unconscious desires to create accidents as a way of achieving secondary gains.

Read more

Bintan, Tanjung Pinang, Pulau Penyengat

Huwaw…ternyata udah 2 minggu lebih yah saya ga posting. Yah, tugas negara emang lagi banyak2nya nih (berasa iklan women napkins). Salah satunya perjalanan yang mau saya ceritain disini nih. Minggu kemarin selama 5 hari saya dinas ke kota Tanjung Pinang, pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Buat yang baru tahu (seperti saya juga), pulau Bintan ini letaknya di deket2 Singapura, seperti juga Batam, yang masih masuk provinsi Kepri. Unit Kerja saya yang emang salah satu tupoksinya adalah pembinaan SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja), ngadain pelatihan di kota Tanjung Pinang. Penerbangan Jakarta-Tanjung Pinang cuma ada 3 kali sehari, yang dilayani 3 maskapai. Jadi 1 maskapai 1 kali terbang. Bahkan maskapai milik negara yang biasanya jadi langganan kantor kami ga ada penerbangan kesana. Jadilah, kami mesti naek maskapai dengan warna merah putih yang terkenal hobi banget delay. Alhamdulillah, pas kami berangkat maupun pulang, tepat waktu dua-duanya.

Read more

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.