Outing #1. Day 1 – 3, Pusat Pendidikan Infanteri, Cipatat, Jawa Barat.

Pendidikan semi militer singkat kami dimulai di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) yang lokasinya di Cipatat, Bandung Barat. Kami berangkat bareng naik bis dari kantor kurang lebih jam 11 siang. Mungkin karena perkiraan waktu yang meleset karena seharusnya kami sudah berangkat jam 9 pagi, selama perjalanan kami hanya dapat snack, dan ga berhenti buat makan siang juga. Jadinya lah, kami turun dari bis ± jam setengah 2 siang, dengan kondisi lapar dan panas yang menyengat, dan langsung disambut oleh seorang berseragam loreng. Dalam mental state yang setengah mengantuk dan setengah lapar, kami diturunkan dari bis dengan perintah ganti sepatu olahraga dan langsung berbaris. Buyar semua wejangan have fun dan menikmati acara yang kami terima sebelumnya. Pelatih militer kami tampangnya sangar (ampun pelatih..) dan langsung meningkatkan tensi sebelum kami berbaris dan digiring masuk ke lokasi pusdikif.

Hari pertama kami disana diisi baris-berbaris sampai menjelang Maghrib, dan malamnya diisi oleh EO kami dari Gladiwana (ini bukan promosi). Sebenernya meskipun sebagian besar materi kami diisi oleh EO yang mostly seru dan fun, hal yang bikin kami berdoa supaya 3 hari di pusdikif cepat berlalu adalah saat makan, tidur dan mandi yang semuanya military style. Untuk makan, kami harus menuju ruang makan sambil baris dan nyanyi sepanjang jalan yang lumayan jauh, saking gedenya kompleks Pusdikif. Saat mau makan pun, kami harus pakai tata cara militer yang serba rapi dan seragam. Ada laporan pembuka dan penutup, lauk yang tersedia di meja kami harus dimakan sampai habis tanpa sisa, dan larangan bersuara selama makan bikin saat makan jadi agak traumatis (ceileh) buat sebagian dari kami. Lauk yang tersedia disana juga ‘bersahaja’ banget, dan hampir selalu sama setiap makan. Makan snack yang biasanya menyenangkan pun jadi serem karena semua snack yang kami terima harus dimakan tanpa sisa. Kalau ada yang ga sanggup, snacknya bakal diedarin buat dimakan sedikit demi sedikit sama teman yang lain, dengan aturan semua harus kebagian.

Kami tidur di barak tentara. Ruang barak untuk cewek dan cowok terpisah lumayan jauh karena kamar mandinya agak riskan. Kami yang cewek2 awalnya kena shock culture, karena waktu mandi yang terbatas banget, dan bentuk kamar mandi yang bikin takjub. Jadi, antara atap dan tembok kamar mandi ada jarak yang bikin mandi jadi semriwing kalau kelamaan. Ada ruangan kecil2 yang cuma muat buat toilet, dan tempat airnya memanjang, letaknya di luar sekat2 tadi. Jadilah, demi mempercepat mandi, kami mandi bareng aja tuh di depan tempat airnya. Lupain malu, freestyle all the way. Huks.

Tiap malam, kami diwajibkan jaga malam bergilir tiap satu jam sekali, sepanjang malam. Mending deh kalau lokasi Pusdikif di deket keramaian kota. Lokasinya terpencil dan sebagian dikelilingi hutan, dan kalau malam penerangannya kurang memadai. Jadi banyak jalannya yang gelap banget. Itulah kenapa, karena saya seorang yang clumsy dan accident prone, di hari kedua waktu kami baris menuju ruang makan buat makan malam, kaki saya keseleo karena masuk ke salah satu lubang jalan. Saya pikir awalnya biasa aja saking seringnya saya kesandung dan jatuh, palingan yang agak parah celana training favorit saya robek lebar di bagian lutut kiri *huaaaa*. Tapi ternyata, pergelangan kaki kanan saya udah bengkak aja waktu dokter dari Gladiwana dateng dan ngeliat kaki saya. Jadilah saya pesakitan dalam sehari doang.

Sebenarnya, meskipun 3 hari di Pusdikif latihannya lumayan berat, saya bersyukur banget dapat teman2 seperjuangan yang positif dan semangat. Jadi meskipun sambil ngedumel, kami tetap ketawa2 kalau disuruh push-up atau lari2 dan dipanasin (emang mesin?) pas baris berbaris. Oiya, semua alat komunikasi kami disita waktu malam hari pertama. Jadilah obrolan antar teman2 satu2nya hiburan buat kami. Dan pelatih militer disana juga meninggalkan kesan buat kami karena sebenernya orangnya baik, cuma demi jaga tensi jadi mukanya dijaga tetep sangar, dan akhirnya jadi lucu juga. Waktu cewek2 jaga malam pun, yang kebagian shift tengah malam ditemenin ngobrol sama pak pelatih. Uwuwuwu deh.

Hari ketiga kami persiapan untuk long march menuju Kampung Tajur. Karena masih cedera, saya skip olahraga pagi. Tapi dengan pertimbangan ini pengalaman yang (semoga) cuma sekali seumur hidup, saya bertekad buat tetep ikut jalan long march, dengan kaki tetap diperban.

To be continued…

Advertisements

Wanna say something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s