Love – Part 10. Tuhan Tahu, Tapi Menunggu

Cinta pertama. First love. What comes to your mind when you hear that phrase?

Seseorang yang biasanya tidak bisa dimiliki? Saat pertama kalinya kupu-kupu beterbangan di dalam perut karena kehadiran seseorang? Atau sekedar cinta monyet yang biasanya pelan2 memudar seiring kedewasaan datang?

Buat saya, cinta pertama itu kenangan tentang seorang teman. Teman yang namanya menghiasi halaman2 diary saya selama masa remaja saya dengan tumpahan rasa giddy, bahagia, kesal, sedih. Selayaknya romantisasi cinta pertama ala drama Korea atau sinetron remaja jaman sekarang, masa sekolah kami lebih banyak dihabiskan dengan arguing, bickering, dan tentu saja, saling panggil nama orang tua (anak jaman sekarang masih begini ga sih?). Saya dan dia jadi teman sekelas saat kami kelas 2 dan 3 SMP (semacam kelas 8 dan 9). Bedanya dengan drama korea, meskipun selanjutnya kami tetap satu sekolah saat SMA dan bahkan berada di satu organisasi yang sama, hubungan kami tidak pernah lebih jauh dari teman. Setelah melihat ke belakang, sampai sekarang saya kurang paham kenapa bisa sampai dia jadi cinta pertama saya. Dia cuek, seringkali keras kepala, cowok baik2 yang selesai sekolah langsung pulang ke rumah (beda banget sama saya yang… well, let’s say that those years were my rebelling phase), dan to be honest, saya sempat meragukan apakah dia pernah tertarik sama lawan jenis (hehe). Saat kuliah, meskipun kami kuliah di tempat yang sama, kami cuma saling kontak dan bertemu sekali (yang alasannya saya lupa), dan semua perasaan saya sebelumnya terhadap dia pun pelan2 menghilang.

Selepas kuliah, saya merantau ke Jakarta, dan kami pun hilang kontak setelahnya. I thought that was the end of our story. Up until a few months ago.

Setelah kisah drama saya dan Mr. Peculiar berakhir sekitar 2 tahun yang lalu, pelan2 saya menata hidup (cailah) dan mulai menikmati hidup saya sebagai cewek single perantauan ibukota. Kalaupun saya sering minta teman2 saya buat mencarikan jodoh, deep down saya sebenarnya sedang sangat enjoy dengan kesendirian dan buat saya, minta dicarikan jodoh lebih sebagai bentuk “usaha” yang iseng2 berhadiah. Kalaupun ada yang nawari untuk dikenalkan ya bagus, kalau ga ya berarti I get to enjoy my life as a single a little longer. Kalau orang Jawa bilang, sawangane kalau saya sama sekali ga keliatan usaha.

Suatu pagi di akhir bulan September (bisa dijadiin judul buku nih), somehow, saya mimpi tentang dia, seorang teman yang sudah lama saya lupakan (dan sebelum sodara2 pembaca mikir yang aneh2, ndak, saya ndak mimpi jorok kok). Saya bangun dengan reaksi: “Huh?”. Long storyshort, saya kontak dia setelah dapat nomor barunya dari mutual friends kami, Dinar, and she knows all about our story. Jujur, tujuan saya untuk kontak dia lagi adalah sekedar tanya kabar dan memastikan nomor yang saya terima benar. But somehow, obrolan kami berlanjut sampai beberapa minggu kemudian, dimana kami saling bercerita tentang kegagalan kami masing2 dengan hubungan kami sebelumnya, sampai berbagai rencana dan mimpi kami ke depan. Dan tanpa kami sadari, pembicaraan kami semakin mengarah pada urusan pernikahan, bagaimana kami berdua ada pada posisi sudah dipandang pantas untuk menikah, terutama oleh orang tua masing2, tapi belum juga menemukan seseorang yang membuat kami (saya khususnya) ingin menikah. Hingga pada suatu siang, he said to me:

“Gimana kalau nikahnya sama aku aja?”.

And I said: “Okay, kalau emang ajakannya serius”.

(PS: semua pembicaraan kami berlangsung dalam bahasa Jawa, jadi quote di atas bisa jadi kurang akurat).

Dan 2 minggu kemudian, dia menunjukkan keseriusannya dengan mendatangi saya ke kota ini, Jakarta. Lalu sebulan kemudian, saat saya pulang ke rumah, kami bertemu orang tua masing2 untuk berkenalan (lagi), dan 2 minggu selanjutnya, dia meminta ijin kepada orang tua saya untuk melamar saya. Tanggal 12 Februari 2017, dia datang bersama keluarga besarnya untuk secara resmi meminta saya menjadi istrinya.

Sampai sekarang, saya masih tidak bisa menjawab kalau ada yang bertanya, apa yang membuat saya menjawab ya saat dia mengajak saya menikah. Dari pembicaraan kami setelah kami mulai merencanakan pernikahan, dia baru mengakui, bahwa dulu saat sekolah, dia sebel luar biasa sama saya karena seringnya kami dijodoh2kan oleh teman2 (you know, kids), dan memang kenyataannya kami lebih banyak berdebat atau saling ribut. Tetapi ternyata, setelah lulus sekolah, dia justru selalu mengingat berbagai detail tentang saya, seperti motor apa yang saya kendarai dulu waktu sekolah, bagaimana juteknya saya menyambutnya dulu tiap kali dia datang ke rumah saya, hingga tanggal ulang tahun saya. Dan tanpa bisa dijelaskan, dia mengalami beberapa kejadian yang sempat membuat dia berpikir untuk berkomunikasi lagi, tetapi jarak kami yang semakin jauh membuat dia berpikir ulang dan akhirnya mundur. Sampai akhirnya justru saya yang menghubungi dia secara kebetulan. Well, mungkin bukan kebetulan.

Semakin saya mengenalnya (lagi), semakin saya menyadari, I fall for him, tapi kali ini, bukan kepada teman saya yang begitu cuek dan keras kepala itu, tetapi kepada laki2 yang dengan serius menunjukkan kepada saya bahwa dia mencintai saya, saya yang sekarang, dan tidak ada yang dia inginkan selain meminta saya untuk menemaninya menghabiskan sisa hidup bersama. Laki2 yang memiliki pandangan dan prinsip hidup yang selama ini saya cari untuk memimpin saya dalam keluarga. He’s such a gentle soul, and he knows exactly how to ensure me, and reminds me every single day, that I am worth a lot.

That’s how fate brought us together, without too much drama, very gently, in silence.

Kami harus melewati banyak hal dan berproses untuk mendewasakan diri sendiri2, agar saat kami dipertemukan lagi, kami bisa lebih saling menghargai keberadaan masing2, dan mensyukuri, betapa beruntungnya kami, to be given a second chance for love, this time with a friend, hopefully for as long as we live.

Tuhan tahu, tapi menunggu…