Wedding Items Part 2.

Okay, because I’ve made the last post part 1, so I think I should’ve made a part 2 post. Dan karena saya mencurahkan waktu, tenaga, darah (literally) dan air mata untuk menyelesaikan  wedding item yang satu ini, jadi rasanya harus diabadikan dalam postingan blog.

Jadi, waktu mulai merancang wedding, saya sudah bertekad kalau saya ogah pakai baju pengantin yang larger than life. Saya maunya baju pernikahan saya simpel, tapi tetap berkesan dan sesuai sama kepribadian saya (meskipun sampai sekarang masih belum nemu jati diri). Suatu hari saya sama Ibu+Papa+Adik (sebagai WO merangkap supir) jalan2 ke Jembatan Merah Plaza, yang di Surabaya dikenal sebagai salah satu pusat grosir kain. Nah, sebelumnya, saat mau menentukan warna tema, somehow saya tertarik dengan warna pink salmon, atau dusty pink, atau sekitaran itu, dan kebetulan, waktu kami ke JMP, saya nemu kain brokat cantik dengan warna yang sesuai banget dengan yang saya mau.

Setelah dapat kain, saya langsung buka pinterest, dan cari model baju pengantin muslim, karena saya maunya pake rok, bukan kain jarit Jawa. Setelah nemu model, langsung deh cari penjahit baju manten yang oke di Mojokerto. Kenapa di Mojokerto? Karena ongkos jahitnya pasti lebih murah. Dan bener dong, dengan hasil yang cocok buat saya, ukurannya pas, ongkosnya ± 500.000 rupiah saja! Score! Tapi memang bener2 cuman jahit bajunya, tanpa payetan, karena saya punya ide gila, yaitu: MAU JAHIT PAYET BAJU PENGANTIN SENDIRI. Iya, GILA. Kalau dipikir2 sekarang masih ga percaya saya nekat mau payet sendiri dengan jangka waktu yang ± cuma 2 bulan, dengan pengalaman minim soal payet memayet. Kalau masalah jahit menjahit sih udah biasa (jahit tangan, bukan pakai mesin). Yang pasti, yang ada dalam otak saya, setelah ngobrol dengan salah seorang senior di kantor, payet baju sendiri itu memungkinkan. Dia dulu beli swarovski asli (khusus untuk payet, jadi ada lubangnya) di Toko Renda Senayan City dan jahit payet sendiri baju akadnya, sambil dicicil pelan2 kalo di kantor lagi ga terlalu sibuk. Jadi saya jalan2 deh ke Toko Renda yang sekarang berubah nama jadi Torenda, di lantai 4 Senayan City. Disana bisa milih berbagai macam swarovski dengan berbagai bentuk dan berbagai warna. Bisa kalap kalau liat langsung.

Masalah selanjutnya setelah baju pengantin selesai dijahit dan swarovski sudah didapat adalah: mau payet model pegimane? Awalnya bayangan saya swarovskinya cukup ditempel aja diatas kain brokat, semacam sprinkle gitu. Major fail. Dari jauh ga kelihatan dan brokatnya kurang support untuk kristal yang agak besar. Akhirnya saya minta tolong sama temen kantor+ salah satu bridesmaid saya, Eni, buat ide desain. Dia jago gambar desain baju. Dan keluarlah solusi, payet swarovski akan disebar diatas renda bordir nuansa emas, dengan motif bunga.

Jadilah saya seret2 Eni dan Puspa (seksi dokumentasi sesi jahit) buat nemenin saya berangkat ke Thamrin City sepulang kantor buat cari renda bordir, karena harga renda disana lebih murah dibanding Pasar Mayestik (tapi kualitas renda di Pasar Mayestik memang jauh lebih bagus). Untuk tahapan awal saya dibantuin temen2 seruangan buat gunting+nempel renda bordirnya sesuai desain gambar awal pakai jarum pentul (iya, di ruang rapat kantor waktu longgar). Rencananya adalah semua pola renda akan saya jahit terlebih dulu, baru saya akan tempel swarovski di titik2 tertentu buat aksennya. Yang kemudian saya sadari adalah, swarovski yang saya beli pertama kali masih jauh dari cukup, and I ended up buying more and more, and more. Jadi, biaya beli swarovski akhirnya jauh lebih besar dibandingkan biaya beli kain+jahit bajunya. Oh, well. saya sih belinya nyicil, pas ada duit nambah lagi.

Saya ngebut jahitnya waktu sepulang kantor atau weekend. Dan saat itulah saya menyadari kalau saya beneran ambisius tentang ide “jahit payet baju pengantin sendiri” ini. Saat waktu semakin mepet saya udah hampir putus asa dan kepikiran buat kasih aja ke penjahit profesional di Blok M atau Mayestik. Tapi hati saya rasanya ga rela, because I know I can do it. And I DID DO IT! Sayangnya foto2 disini ga bisa menggambarkan kalau kristalnya berkilauan saat kena cahaya. Bisa dilihat di video sih (tapi belum upload juga sampai sekarang).

Kesimpulannya dari pengalaman saya, GA USAH TERLALU AMBISIUS kalau lagi nyiapin pernikahan, karena bakal banyak faktor yang bisa bikin Bride itu stress, dan memutuskan untuk payet baju sendiri itu cari masalah namanya. Tapi Alhamdulillah baju saya bisa selesai tepat waktu (dengan penuh drama), dan saya bisa bangga karena pernah nekat jahit payet baju pengantin sendiri dan berhasil. Because I plan to do it only once anyway.

I guess this is it for my wedding posts. I don’t think I can write about it in another post. I have something else to write about (hopefully) soon. See you!

Advertisements

Relationship Goals

You’re not easy going, but you’re passionate. And that’s good.
And when you get upset about little things, I think that I’m pretty good at making you feel better about that. And that’s good too.
So they can say that you’re high maintenance, but it’s okay, because I like… maintaining you.

Chandler to Monica.

Drama Addiction.

Okay, this gonna sound very unimportant but lately, I’ve been digging through some Korean dramas in a high intensity, by finishing 5 dramas in just 2 weeks. One of the reason was my lack of workload in the beginning of the year, and how Mr. Peculiar is so very busy on the contrary, which make me feel like I should just stay focus on something to distract my attention before I become a weepy paranoid nagging person. Even though his first reaction when I told him that I drown myself in dramas was the ultimate guys perspective about dramas: “Can you cut down on watching drama? You’ve became weird lately”. Euumm.. thanks? My 2 TB hard disk drive has been my super best friend, which made me become a Korean drama addict for the time being. I’ll give some of the dramas my own personal rating, not much of a synopsis because you can check the synopsis in so many other sites. And just for some insights, I’m very picky about dramas. I usually stop watching when the story gets too draggy and cheesy, or centered only in the characters love triangles (admit it, almost every drama has one).

Read More »

Movie Impression. The Hobbit: The Battle of the Five Armies.

Hello everyone who happened to stumble onto this page. After a very long and endless laziness of writing a movie impression, I finally find the mood to write one, right after I watched it. As some of you guys know, I looove~ The Lord of The Rings (LOTR) trilogy movies. Not in a way that I collected every memorabilia of the movies, I mean like, to the point that I watched it almost once every year, including the extended version. The Hobbit, another trilogy adaptation of J.R.R. Tolkien’s book, coming from the same director, made it almost impossible for me not to compare these two trilogies. I’ll write this post mostly in Indonesian anyway.

Therefore, before I start, I should tell you that this is a very personal (full with feelings and comparison with LOTR) impression, so feel free to disagree with me. Oh, and Spoiler Alert!

Read More »

A Cage

Lady Eowyn:

Women of this country learned long ago: those without swords can still die upon them.
I fear neither death nor pain.

Aragorn:

What do you fear, my lady?

Lady Eowyn:

A cage.
To stay behind bars until use and old age accept them.
And all chance of valor has gone beyond recall or desire.

Meant to be

Frodo:

“I wish none of this had happened.”

Gandalf:

“So do all who live to see such times.
But that is not for them to decide.
All we have to decide is what to do with the time that is given to us.
There are other forces at work in this world, Frodo, besides the will of evil.
Bilbo was meant to find the Ring. In which case, you also were meant to have it.
And that is an encouraging thought.”