Padang, West Sumatera. Gorgeousness All The Way.

So I forgot to write this journey and wrote the Kebun Raya Bogor trip instead. I went to Padang for an assignment to a remote area (our Ministry has a lot of projects in all corners of Indonesia) with two of my seniors in 15th of December 2016 until  the 17th. We arrived in Padang at night, so we don’t really have anywhere to go. What we didn’t know was that the project was about 200 km from Padang, so it was quite a journey. Thankfully, or driver was really nice. We depart from our hotel the next day at 9 o’clock, and I thought that we would reach our destination at about 12 o’clock. But boy was I wrong. The journey took more than 4 hours through hilly roads, but the view was amazing. The assignment only took 3 hours, so our driver suggested that we visited some of West Sumatera’s best tourist spots.

The first one was Pagaruyung palace which reside in Batusangkar. The entrance fee was about IDR 10.000 (I’m sorry I forgot). When we arrived there, it was almost sunset, so I didn’t really expect to explore so much, but we managed to rent Minang’s traditional attire which costs IDR 35.000 per piece and took a bunch of pictures inside.

From Pagaruyung, we went to visit a “magical” stone called “Batu Angkek-Angkek”, which has a very interesting legend. Locals said that if you can lift the stone easily whilst wishing for something, then your wish is bound to come true, if you can’t then, well… The stone itself had been weighed by many, and not one had the exact weight. There are pictures in the gallery to give you a better perspective of the stone. However, the caretaker emphasize not to take the legend too deeply, because everything depends on our effort and God’s will. They didn’t charge a certain amount of entrance fee, but you are welcome to give a voluntary donation that you put inside a basket behind the curtain (I’ll show it the gallery).

Here are some of the photos that I took. I really rarely put my own picture in this blog, but the one that I post here was suppose to give a peek inside the Pagaruyung Palace.

Advertisements

Kebun Raya Bogor. First Trip of The Year.

Halo semuanya. I will write this post mostly in Indonesian, because, well, just because. Jadi dalam rangka mengisi waktu luang pas liburan tahun baru, saya sama beberapa junior2 imut saya (Puspa, Eni, Vita) berencana buat pergi ke Kebun Raya Bogor naik KRL. Well, naik keretanya masing2 sih, saya berangkat dari stasiun Pasar Minggu, Puspa dari Pondok Cina, Eni sama Vita dari Bekasi, dan kami janjian ketemu di stasiun Bogor. Kami mau berangkat pagi tanggal 1 Januari 2017, karena perkiraan kami jalanan dan tempat wisata bakalan sepi karena banyak orang yang masih recuperate dari perayaan tahun baru semalam. Kenyataannya? WROOOOONG.

Sewaktu saya turun dari ojek di stasiun Pasar Minggu sekitar jam 9 pagi, antrian loket udah mengular. Untungnya saya udah nyiapin uang elektronik jadi ga perlu antri untuk beli tiketnya. Setelah masuk peron, ternyata udah banyak banget Ibu2 dan Bapak2 yang bawa anak2 piyik udah stand by di peron, dan dari hasil nguping, sadarlah saya bahwa saat liburan begini, Kebun Raya Bogor itu adalah salah satu tujuan wisata keluarga, yang notabene pada ga ikut teloletan pas malem tahun baru. Yasudahlah, udah nyampe stasiun ini, saya kuatkan tekad, meskipun hari itu adalah hari pertama siklus bulanan yang biasanya bikin saya nyeri setengah mati (saat itu saya belum ngerasa sakit atau gimana2).

Waktu kereta datang, saya sengaja pilih gerbong wanita, karena saya mikir toh pasti berdiri juga, mending di gerbong wanita supaya lebih nyaman. Setengah perjalanan udah mulai deh kerasa kaku dan nyeri perut saya, tapi masih mikir, ah, tahan lah. Waktu sampai di stasiun UI (seinget saya 6 stasiun sebelum stasiun Bogor) mulai deh kram dan nyeri perut saya makin parah. Mau minta tempat duduk ga enak, karena banyak banget Ibu2 yang lagi gendong anak kecil. Ternyata si Puspa naik kereta yang sama, tapi beda gerbong sama saya. Sesampainya di stasiun Bogor, saya langsung cari bangku buat duduk sambil nunggu Puspa, karena kaki saya udah gemeteran. Begitu ketemu, Puspa bilang kalau muka saya pucat banget, sampai blush on saya pun ga keliatan. Kami istirahat dulu di mushola buat kontak yang dari Bekasi sambil nunggu kram saya reda (tips: minum soda bisa bikin nyeri haid cepet reda, meskipun saya ga tahu efek samping lainnya ya, hehehe). Ternyata, antrian kereta di Bekasi jauh lebih ngeri, sampai di luar stasiun, dan akhirnya kloter Bekasi nyerah dan batal berangkat. Karena udah sampai Bogor, saya sama Puspa memutuskan untuk tetap jalan ke Kebun Raya, setelah sakit saya reda.

Dari stasiun Bogor, kami jalan kaki ±10 menit sampai gerbang samping Kebun Raya (letaknya ada di belakang Kantor Pos). Disana ada loket untuk tiket, yang harga per orangnya @ IDR 14.000. Untuk cerita selanjutnya akan saya tulis sekalian di Gallery foto yaaa…

Saya dan Puspa keliling jalan kaki di dalam Kebun Raya mulai dari jam 11.00 WIB sampai keluar kompleks Kebun Raya jam 14.30 WIB. Itupun masih banyak poin menarik yang ga bisa kami kunjungi, termasuk bunga bangkai karena tenaga udah terkuras habis.

Yang perlu diperhatikan, kalau mau jalan2 di Kebun Raya siapin fisik, pakai baju yang nyaman, pakai sun block, payung atau kacamata anti UV kalau perlu, pakai sepatu/sandal yang enak buat dipakai jalan, bawa air minum, dan kalau perlu bawa bekal makanan, karena banyak spot yang enak buat piknik (note, banyak abang2 yang jual plastik buat alas piknik kalau males bawa2 tikar).

Kebersihan Kebun Raya sayangnya kurang dijaga. Meskipun pengelola sudah menyiapkan tempat sampah yang jumlahnya lumayan, masih banyak spot yang kurang bersih, termasuk sungainya. Selain itu, bentuk tempat sampah yang terbuka (dibentuk mirip batang pohon) bikin sampahnya cukup mengganggu kalau mulai penuh, yang pasti terjadi kalau pengunjungnya sedang peak seperti kemarin.

Anyway, saya masih berencana mengunjungi Kebun Raya Bogor lagi di waktu yang lebih kondusif, jadi bisa menjelajah lebih leluasa.

See you on my next trip/post!

Hello 2017. Let’s Have a New Journey!

Hi everyone. Sooo.. the new year has come again, and somehow, even though I don’t really celebrate it or anything, I can’t help but got excited when the clock hit 00.00. 2016 has been a relatively calm year (personally), even if most people say that it has been pretty sh*tty all over. I found my comfort zone, I enjoyed my single life, and some delightful surprises had greeted me during the last couple of months (which I will get in a few posts later). 2017 on the other hand, had me all excited, because it offers a new phase of my life, which to be honest quite scary, but I’ll face it head on, and maybe I’ll write about next month (hopefully).

See you later!

Eye Study.

Hey everyone. I’ve been meaning to postpone this post until I could write another post that isn’t a sketch. But what can I say. This month is the peak of my workload, and it’s just a miracle for me to even click this page. So here’s my latest drawing (and a very late post) that I made just to practice coloring, and as you can guess, I gave up pretty quick after the first panel because apparently coloring drives me crazy. Here goes…

My friend said it’s creepy looking.. I used derwent pastel and 2B mechanic pencil to draw all of it. I kind of hope that I can get the same result when I draw a full portrait next time. See you!

Love – Part 9. Yes, We Can be Singles and Just Friends.

Hello everyone. Tulisan ini muncul setelah pembicaraan larut malam dengan salah seorang sahabat saya.

It started when I posted a digital drawing using a gadget called ga***y note, which isn’t mine. Jadi teman saya yang awalnya nanyain gambar, terus nanyain apakah saya beli gadget baru? Waktu saya bilang, bukan itu gadget teman kantor saya, dia lanjut jawab: “ciee, siapa tuh…” (harap dicamkan bahwa pembicaraan ini tidak akurat, as per usual with all my other posts). Saat itulah muncul celetukan saya: “susah ya jadi cewek single, dicurigain mulu”. No hard feelings for her because I know she really means well, and we’re very close so it’s acceptable. But, some other people are thinking that they can make that kind of comment even though they don’t know the other person very well.

Well, that’s the truth for many of us singles, that every time we had an interaction with our opposite sex or any possible romantic partner, people will almost automatically assume that we want to mate (for lack of better words). Bahkan dengan posting foto platonis berdua bareng salah satu junior kampus saya yang cowok dan single, saya dapat komentar: udah, sama dia aja, pantes kok, cocok kok, dia baik kok, bla, bla, bla.

Yang saya permasalahkan sebenarnya lebih ke asumsi bahwa semua orang single itu pasti sedang mencari pasangan. Actively searching. Like, turning every rocks to find another single available person to be the one. Semacam ga bisa lihat cowok/cewek single dianggurin, maka cewek/cowok single lain pasti akan berusaha menjadikan mereka pasangan.

Flash news, ADA lho orang-orang yang memang, honestly, truthfully, enjoying being single. Banyak lho single yang memang nyaman aja berteman dengan opposite sex tanpa berpikir untuk menjadikan mereka calon potensial. Dengan banyaknya komen-komen semacam itu, kadang yang berteman biasa-biasa aja jadi canggung karena takut dicurigain. Single dan tidak kesepian itu sangat bisa dilakukan kok. Single by choice adalah suatu hal yang memang benar-benar ada, bukan mitos atau pembenaran dari kaum single. Being in a relationship doesn’t make anybody becoming superior, especially if you’re in a crappy one. Being happy in a relationship is a good thing, but being single and happy is something to be proud of too.

Kalau berargumen bahwa itu bentuk perhatian atau doa, mbok ya ditanya dulu sama yang bersangkutan, apakah dia nyaman dan ga keberatan dengan perhatian semacam itu? Atau mendingan, sekalian deh ditawarin dikenalin sama yang memang sedang mencari kalau bersedia. Jangan berasumsi bahwa defaultnya manusia single itu mencari jodoh.

Mungkin saya harus sampaikan juga kalau saya belum sampai tahap sebel sih sama perhatian semacam ini. I just brush it off, for now. Cuma jadi semakin mencermati, betapa rikuhnya jadi manusia single, mau foto bareng atau pinjem gadget aja dicurigai…

Comfort Zone.

Hello, it’s me. It’s been so long since I wrote anything worth reading, hahaha. Seringkali saya jadi agak minder kalau baca tulisan teman2 saya (entah di blog atau di facebook), karena somehow saya jadi merasa kalau saya sekarang jadi terlalu nyaman dengan rutinitas. I got too comfortable in  my comfort zone. Well, it takes time for me to be in this zone, because I kinda had a rough patch last year, so maybe my question is, is it not good to be in a comfort zone for too long?

 I believe that to write something, I need to be inspired, by something, by anything. And being comfortable can only provide so much inspiration. You stop looking into something that might challenge you, or pull you out of your zone. I got lazy doing anything that might screw up my routines. I’ll get defensive when something got a little too interesting, because there might be a price to pay to enjoy it, and I’ve struggled so hard to be this in this position.

 So, do I want to write again? Sure. But do I want to get out of my comfort zone to accomplish it? I don’t know. But then again, maybe, if I look hard enough, there are tons of things that can get me inspired, without being too pulled out of my zone, I just haven’t spend the time or effort to do it. I want to start though. I feel like my brain is just being dormant right now. I really do hope that I can write a long post like before, and not just some journey or sketch posts. See you soon. Hopefully. 😀

Day 3, 3 November 2008, Prambanan

Reblog postingan di blog lama karena lupa password last part. Bagian yang ini mungkin lebih menjelaskan latar belakang kenapa saya makin kesini tetep aja agak disfungsional. Kebanyakan bergaul sama temen2 aneh, balikin ke normalnya agak susah.

Bubblydhe's Weblog

Hmm..Image Headernya itu foto di Vredeburg juga betewe..hehew..ga pake efek,sumpah!

Oke, hari ke-3. Kita dah rencanain dari awal kalo kita mau nyobain naek bis Trans Jogja. pengen tau aja gimana keadaannya (baek” aja). nah, ternyata ada yang jurusan Malioboro langsung ke Prambanan. Kebetulan! Akhirnya setelah tanya”, kita naek dari shelter (haltenya) Maliboro, ntar naek yang jalur 1A, langsung deh tururn shelter Prambanan. cuma bayar Rp 3000. Ternyata bisnya keren banget! bersih! ya mungkin secara masih baru…tapi emang di dalem juga ga ada orang buang sampah sembarangan..mungkin malu juga siy..pasti keliatan kalo buang sembarangan. lagian ada tempat sampahnya juga di dalem bis. singkat cerita, nyampe shelter Prambanan ternyata kita masih harus jalan kaki kira” 1 km menuju pintu masuknya. Meskipun sebenernya banyak andong, tapi mengingat prinsip nggembel kita, pengeluaran harus seminimal mungkin! Tiket masuknya Prambanan Rp 8000. yang unik, di Prambanan disetelin musik gamelan yang disetel lewat loudspeaker. Jadi kemanapun kita…

View original post 290 more words